Melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup memberikan pengaruh terhadap seluruh sektor bisnis penggerak ekonomi saat ini. Menurut data Badan Pusat Statistik, perekonomian Indonesia pada tahun 2019 tumbuh sebesar 5,02% secara tahunan (year on year), lebih lambat jika dibandingkan dengan tahun 2018 yaitu sebesar 5,17% (yoy). Investasi di tanah air seakan belum dapat bangkit kembali setelah tahun politik dan pesta demokrasi di tahun 2019.

 

Tren perlambatan ekonomi global pun tidak terindahkan dengan dinamika perang dagang antara China dan Amerika serta maraknya penyebaran Virus Corona di China yang turut mempengaruhi lesunya perdagangan internasional yang berimbas pada kondisi pasar saham dan pasar uang di seluruh Dunia.

 

Faktor-faktor di atas memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kondisi bisnis kepelabuhanan khususnya PT Pelabuhan Indonesia Investama (PII) yang bergerak dalam investasi kepelabuhan dan port related.  Pada periode pemerintahan Presiden Jokowi, sektor kepelabuhan memegang peran yang sangat vital untuk mendorong roda ekonomi Indonesia, khususnya dalam pengembangan Poros Maritim di Indonesia.

 

Sebagai perusahaan investasi yang bergerak di sektor kepelabuhanan, PII memegang peran penting sebagai tools PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC untuk mewujudkan konsep integrated port dalam menuju visi World Class Trade Facilitator. PII mengemban mandat untuk membantu IPC membangun ekosistem kepelabuhanan secara organik dan anorganik dimana dalam penjabarannya IPC perlu melakukan investasi pada bisnis pendukung dan bisnis inti melalui perusahaan investasi dalam meningkatkan kapabilitas pengelolaan investasi dan governance dalam IPC Group.

 

Menyadari besarnya tanggung jawab yang harus di emban yang datang bersamaan dengan dinamika tantangan bisnis investasi kepelabuhanan yang ada, Direktur Utama PII Bapak Amri Yusuf menginisiasikan penyesuaian kembali corporate value untuk PII yang lebih dinamis dan relevan dengan kondisi bisnis investasi kepelabuhanan saat ini. Dimana menurut beliau, value merupakan inti utama dari sebuah organisasi karena berkaitan dengan nilai-nilai perusahan tersebut yang akan di implementasikan dalam budaya perusahaan tersebut dan dituangkan sebagai norma-norma yang menjadi panduan perilaku bagi semua karyawan dan manajemen perusahaan.

 

Dalam forum pada Rabu, 5 Februari 2020 yang dilaksanakan di Kantor PII Gedung Cabang Lantai 7, Bapak Amri Yusuf mengajak seluruh karyawan PII untuk berdiskusi dan bersama-sama merumuskan kembali corporate value yang lebih dinamis dan relevan untuk perusahaan dalam menghadapi tantangan bisnis PII ke depannya. Pada diskusi yang berlangsung, Direksi dan seluruh karyawan menyepakati 5 (lima) value sebagai Corporate Value PII yang terbaru diantaranya professional, reliable, integrity, collaboration, dan excellence (PRICE). Kelima nilai tersebut diharapkan dapat mencerminkan semangat new value and new spirit bagi PII untuk memberikan performa terbaiknya sebagai perusahaan investasi di sektor kepelabuhanan yang berada di bawah naungan IPC Group.

 

Pentingnya corporate value dalam mengelola perubahan dan strategi pengembangan bisnis sebuah perushaaan selama bertahun-tahun telah dikembangan oleh konsultan McKinsey Company sebagai salah satu elemen dalam 7’s framework (shared values, strategy, structure, system, style, staff, dan skills). Dalam pengertiannya, shared values sendiri adalah nilai-nilai etik yang menjadi bagian terpenting yang mewarnai nilai-nilai yang lain. Nilai-nilai ini disebarluaskan kepada para personal (orang-orang yang bekerja) di perusahaan. Penerapan nilai-nilai (moralitas dan kebaikan) dipercaya menjadi perekat keselarasan dan keharmonisan bukan saja bagi shareholder tetapi juga stakeholder.

 

Penyesuaian kembali corporate value ini juga diharapkan dapat menunjang proses penyegaran kembali branding PII di lingkungan IPC Group dan mempertegas komitmen PII sebagai perusahaan investasi dalam sektor kepelabuhanan yang berorientasi untuk membantu IPC mempercepat pembangunan ekosistem kepelabuhanan.